PENDAHULUAN
BAB I
A. LATAR BELAKANG
Mobilitas dalam kamus kedokteran dapat di artikan sebagai daya gerak. Atau suatu kondisi dimana tubuh dapat melakukan tindak bergerak dengan bebas (Kasier, 1989).
Mobilisasi merupakan kemampuan seseorang untuk bergerak bebas, mudah, teratur, mempunyai tujuan memenuhi kebutuhan hidup sehat, dan penting untuk kemandirian (Barbara Kozier, 1995). Sebaliknya keadaan imobilisasi adalah suatu pembatasan gerak atau keterbatasan fisik dari anggota badan dan tubuh itu sendiri dalam berputar, duduk dan berjalan, hal ini salah satunya disebabkan oleh berada pada posisi tetap dengan gravitasi berkurang seperti saat duduk atau berbaring (Susan J. Garrison, 2004).
Merupakan keadaan dimana Immobilisasi / tirah baring adalah keadaan dimana seseorang tidak dapat bergerak secara aktif / bebas karena kondisi yang mengganggu pergerakan (aktivitas ). Imobilisasi secara fisik, merupakan pembatasan untuk bergerak secara fisik dengan tujuan mencegah terjadinya gangguan komplikasi pergerakan.
BAB II
ISI
A. MOBILITAS
Mobilitas dalam kamus kedokteran dapat di artikan sebagai daya gerak. Atau suatu kondisi dimana tubuh dapat melakukan tindak bergerak dengan bebas (Kasier, 1989). Sedangkan imobilitas keadaan individu mengalami ketidakmampuan / keterbatasan gerak fisik secara aktif akibat berbagai penyakit / impairment. Atau dapat di artika sebagai suatu keadaan tidak bergerak / tirah baring yang terus-menerus selama 5 hari / lebih akibat perubahan sindrom degenerasi fisiologis akibat menurunya aktivitas dan ketidakberdayaan.
Mobilisasi merupakan kemampuan seseorang untuk bergerak bebas, mudah, teratur, mempunyai tujuan memenuhi kebutuhan hidup sehat, dan penting untuk kemandirian (Barbara Kozier, 1995). Sebaliknya keadaan imobilisasi adalah suatu pembatasan gerak atau keterbatasan fisik dari anggota badan dan tubuh itu sendiri dalam berputar, duduk dan berjalan, hal ini salah satunya disebabkan oleh berada pada posisi tetap dengan gravitasi berkurang seperti saat duduk atau berbaring (Susan J. Garrison, 2004).
Mobilisasi secara garis besar dibagi menjadi 2, yaitu mobilisasi secara pasif dan mobilisasi secara aktif.
1. Mobilisasim secara pasif
Yaitu mobilisasi dimana pasien dalam menggerakkan tubuhnya dengan cara dibantu dengan orang lain secara total atau keseluruhan.
2. Mobilisasi aktif
Yaitu dimana pasien dalam menggerakkan tubuh dilakukan secara mandiri tanpa bantuan dari orang lain (Priharjo, 1997).
JENIS MOBILISASI
a. Mobilitas penuh, merupakan kemampuan seseorang untuk bergerak secara penuh dan bebas sehingga dapat melakukan interaksi social dan menjalankan peran sehari-hari
b. Mobilisasi sebagian, merupakan kemampuan seseorang untuk bergerak secara bebas karena dipengaruhi oleh gangguan syaraf motorik dan sensorik pada area tubuhnya.
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI MOBILISASI
1. Gaya hidup
Gaya hidup seseorang sangat tergantung dari tingkat pendidikannya. Pengetahuan kesehatan tentang mobilitas akan menyebabkan seseorang melakukan mobilisasi dengan cara yang sehat. Contoh: gaya berjalan seorang ABRI akan berbeda dengan gaya berjalan seorang perawat.
Gaya hidup seseorang sangat tergantung dari tingkat pendidikannya. Pengetahuan kesehatan tentang mobilitas akan menyebabkan seseorang melakukan mobilisasi dengan cara yang sehat. Contoh: gaya berjalan seorang ABRI akan berbeda dengan gaya berjalan seorang perawat.
2. Prosess penyakit dan Injuri
Adanya penyakit tertentu yang diderita seseorang akan mempengaruhi mobilitasnya. Contoh : sesereorang yang patah tulang akan kesulitan untuk mobilisasi dengan bebas.
Adanya penyakit tertentu yang diderita seseorang akan mempengaruhi mobilitasnya. Contoh : sesereorang yang patah tulang akan kesulitan untuk mobilisasi dengan bebas.
3. Kebudayaan
Kebudayaan dapat mempengaruhi pola dan sikap dalam melakukan aktivitas.
Kebudayaan dapat mempengaruhi pola dan sikap dalam melakukan aktivitas.
Contoh : seorang anak desa yang biasa berjalan kaki setiap hari akan berbeda mobilitasnya dengan anak kota yang biasa memakai motor dalam segala keperluannya.
4. Tingkat Energi
Untuk bermobilisasi diperlukan tenaga atau energi.
Untuk bermobilisasi diperlukan tenaga atau energi.
Contoh : seseorang yang sedang sakit berbeda mobilitasnya dengan orang yang sehat.
5. Usia dan Status Perkembangan
Seorang anak akan berbeda tingkat kemampuan mobilitasnya dibandingkan dengan seorang remaja. Anak yang selalu sakit dalam masa pertumbuhannya akan berbeda dengan kelincahannya dibandingkan dengan anak yang jarang sakit.
Seorang anak akan berbeda tingkat kemampuan mobilitasnya dibandingkan dengan seorang remaja. Anak yang selalu sakit dalam masa pertumbuhannya akan berbeda dengan kelincahannya dibandingkan dengan anak yang jarang sakit.
RENTANG GERAK
Rentang gerak merupakan jumlah maksimum gerakan yang mungkin dilakukan sendi dari alah satu tiga potongan tubuh : sagital, frontal, dan transversal.
Potongan sagital adalah garis yang melewati tubuh dari depan kebelakang, membagi tubuh menjadi bagian kiri dan kanan. Potongan frontal melewati tubuh dari sisi ke sisi dan membagi tubuh menjadi bagian dari depan dan belakang. Potongan transversal adalah garis horisontal yang membagi tubuh membagi tubuh menjadi bagian atas dan bawah.
Mobilisasi sendi disetiap potongan di batasi oleh ligamen, otot, dan konstruksi sendi. Beberapa gerakan sendi adalah spesifik untuk setiap potongan. Pada potongan sagital, gerakannya adalah fleksi dan ekstensi (jari-jari dan siku) dan hiperekstensi (pinggul). Pada potongan frontal, gerakannya adalah abduksi dan adduksi (lengan dan tungkai) dan eversi dan inversi (kaki). Pada potongan transversal pronasi dan supinasi (tangan), rotasi internal dan eksternal, dan dosifleksi dan plantarfleksi (kaki).
GAYA BERJALAN
Istilah gaya berjalan digunakan untuk menggambarkan cara utama atau gaya ketika berjalan (Fish & Nielsen, 1993). Siklus gaya berjalan dimulai dengan tumit mengangkat satu tungkai dan berlanjut dengan tumit mengangkat tungkai yang sama. Interval ini sama dengan 100% siklus gaya berjalan dan berlangsung 1 detik untuk kenyamanan berjalan (lehmann et al, 1992).
Dengan mengkaji gaya berjalan klien kemungkinan perawat membuat kesimpulan tentang keseimbangan, postur, keamanan, dan kemampuan berjalan tanpa bantuan. Mekanika gaya berjalan manusia mengikuti kesesuain sistem skeletal, saraf, dan otot dari tubuh manusia (Fish & Nielsen, 1993).
EFEK FISIOLOGI DARI PERUBAHAN MOBILITAS
Apabila ada perubahan mobilisasi, setiap system tubuh beresiko terjadi gangguan. Tingkat keparahan tergantung pada umur klien dan kondisi kesehatan secara keseluruhan, serta tingkat imobilisasi yang di alami.
a) Perubahan Metabolik.
a. Sistem endokrin merupakan produksi hormon sekresi kelenjar, mempertahankan dan mengatur fungsi vital seperti
1. respon terhadap stress dan cedera
2. pertumbuhan dan perkembangan
3. reproduksi
4. metabolisme energi
1. respon terhadap stress dan cedera
2. pertumbuhan dan perkembangan
3. reproduksi
4. metabolisme energi
b. Perubahan sistem respirator.
Klien pasca operasi berisiko tinggi mengalami koplikasi paru-paru. Komplikasi paru-paru yang paling umum adalah atelektasis dan pneumonia hipostatik. Pada atelektasis bronkiolus menjadi tertutup oleh adanya sekresi.
Klien pasca operasi berisiko tinggi mengalami koplikasi paru-paru. Komplikasi paru-paru yang paling umum adalah atelektasis dan pneumonia hipostatik. Pada atelektasis bronkiolus menjadi tertutup oleh adanya sekresi.
c. Perubahan Sistem Kardiovaskuler.
Sietem kardiovaskuler juga dipengaruhi oleh imobilisasi. Ada tiga perubahan utama yaitu hipotensi ortostatik, peningkatan kerja jantung dan pembentukan trombus.
Sietem kardiovaskuler juga dipengaruhi oleh imobilisasi. Ada tiga perubahan utama yaitu hipotensi ortostatik, peningkatan kerja jantung dan pembentukan trombus.
d. Perubahan Sistem muskuloskeletal.
Pada sistem muskuloskeletal meliputi gangguan mobilisasi permanen. Keterbatasan mobilisasi mempengruhi otot klien melalui kehilangan daya tahan penurunan masa otot, atrofi, dan penurunan stabilitas. Pengaruh lain dari keterbatasan mobilisasi yang mempengaruhi sistem skeletal adalah gangguan metabolisme kalsium danj gangguan metabolisme sendi.
Pada sistem muskuloskeletal meliputi gangguan mobilisasi permanen. Keterbatasan mobilisasi mempengruhi otot klien melalui kehilangan daya tahan penurunan masa otot, atrofi, dan penurunan stabilitas. Pengaruh lain dari keterbatasan mobilisasi yang mempengaruhi sistem skeletal adalah gangguan metabolisme kalsium danj gangguan metabolisme sendi.
e. Perubahan Eliminasi Urine.
Eliminasi urine klien berubah oleh karena adanya imobilisasi pada posisi tegak lurus, urine mengalir keluar dari pelvis ginjal lalu masuk kedalam ureter dan kandung kemih akibat gaya gravitasi. Jika klien dalam recumbent atau datar, ginjal dan ureter membentuk garis datar seperti pesawat. Ginjal yang membentuk urine harus masuk kedalam kandung kemih melawan gaya gravitasi.
EFEK PSIKOLOGIS PERUBAHAN MOBILISASI
Mobilisasi menyebabkan respons emosional, intelektual, sensorik, dan sosiokultural. Perubahan status emosional biasa terjadi bertahap. Bagaimana pun juga lansia lebih rentan terhadap perubahan-perubahan tersebut, sehingga perawat harus mengopserfasi lebih dini. Perubahan emosional paling umum adalah deperesi, perubahan perilaku, perubahan siklus tidur bangun dan gangguan koping.
ACTIVITY DAILY LIVING
Activities of Daily Living (ADL) adalah aktivitas yang penting bagi perawatan diri sendiri. Aktivitas sehari-hari merupakan aktivitas rutin yang dilakukan dalam kehidupan sehari-hari .Ketrampilan dalam kehidupan sehr-hari merupakn kebiasaan yg tdk pernh lepas dr setiaporang.kegiatan ini dlakukn dr pgi hr smpe mlm hr.merupakan kegiatan yg bysa dlakukan stiap hr,mlipt mrwt dri,kgiatn dpr dll. Kegiatan Harian Hidup (ADLs) adalah istilah yang digunakan dalam perawatan kesehatan untuk menyebut kegiatan perawatan diri sehari-hari dalam tempat individu tinggal, di lingkungan luar ruangan, atau keduanya. Profesional kesehatan rutin mengacu pada kemampuan atau ketidakmampuan untuk melakukan ADLs sebagai ukuran status fungsional seseorang, khususnya dalam hal penyandang cacat dan orang tua.
ADLs didefinisikan sebagai "hal-hal yang biasanya kita lakukan, seperti makan sendiri, mandi, berpakaian, grooming, pekerjaan, pekerjaan rumah tangga, dan rekreasi." Sejumlah survei nasional mengumpulkan data tentang status ADL penduduk AS. Sementara kategori dasar ADLs miliki. telah diusulkan, apa yang secara khusus merupakan ADL tertentu dalam suatu lingkungan tertentu untuk orang
ADLs didefinisikan sebagai "hal-hal yang biasanya kita lakukan, seperti makan sendiri, mandi, berpakaian, grooming, pekerjaan, pekerjaan rumah tangga, dan rekreasi." Sejumlah survei nasional mengumpulkan data tentang status ADL penduduk AS. Sementara kategori dasar ADLs miliki. telah diusulkan, apa yang secara khusus merupakan ADL tertentu dalam suatu lingkungan tertentu untuk orang
tertentu mungkin berbeda.
Aktivitas harian biasanya kita lakukan dalam kehidupan sehari-hari termasuk kegiatan sehari-hari kita melakukan perawatan diri (seperti makan sendiri, mandi, berpakaian, dandan), pekerjaan, pekerjaan rumah tangga, dan rekreasi. Kemampuan atau ketidakmampuan untuk melakukan ADLs dapat digunakan sebagai ukuran yang sangat praktis kemampuan / ketidakmampuan dalam banyak gangguan.
Kegiatan rutin bahwa orang cenderung lakukan setiap hari tanpa memerlukan bantuan. Ada enam ADLs dasar: makan, mandi, berpakaian, toileting, mentransfer (berjalan) dan penahanan. Kemampuan individu untuk melakukan ADLs adalah penting untuk menentukan jenis perawatan jangka panjang (misalnya perawatan-perawatan di rumah atau perawatan rumah) dan cakupan kebutuhan individu (yaitu Medicare, Medicaid atau asuransi perawatan jangka panjang).
Sebuah aktivitas hidup sehari-hari (ADL) evaluasi merupakan penilaian individu fisik dan kadang-kadang mental keterampilan. Di bidang terapi fisik atau okupasi, itu mencerminkan seberapa baik pasien cacat atau seseorang sembuh dari penyakit atau kecelakaan dapat berfungsi dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini juga digunakan untuk menentukan seberapa baik berhubungan dengan pasien dan berpartisipasi dalam lingkungan mereka.
Sebuah aktivitas hidup sehari-hari (ADL) evaluasi merupakan penilaian individu fisik dan kadang-kadang mental keterampilan. Di bidang terapi fisik atau okupasi, itu mencerminkan seberapa baik pasien cacat atau seseorang sembuh dari penyakit atau kecelakaan dapat berfungsi dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini juga digunakan untuk menentukan seberapa baik berhubungan dengan pasien dan berpartisipasi dalam lingkungan mereka.
B. IMMOBILITAS
Merupakan keadaan dimana Immobilisasi / tirah baring adalah keadaan dimana seseorang tidak dapat bergerak secara aktif / bebas karena kondisi yang mengganggu pergerakan (aktivitas ). Imobilisasi secara fisik, merupakan pembatasan untuk bergerak secara fisik dengan tujuan mencegah terjadinya gangguan komplikasi pergerakan.
na seseorang tdk dpt bergerak secara bebas karenakondisi yg mengganggu pergerakan/aktifitas.Contoh : mengalami trauma tulang belakang, fraktur pada ekstremitas.
na seseorang tdk dpt bergerak secara bebas karenakondisi yg mengganggu pergerakan/aktifitas.Contoh : mengalami trauma tulang belakang, fraktur pada ekstremitas.
PENGATURAN POSISI TUBUH SESUAI KEBUTUHAN PASIEN
Dalam mempertahankan kesejajaran tubuh yang tepat, perwat mengangkat klien dengan benar, menggunakan teknik posisi yang tepat, dan memindahkan klien dengan aman dari tempat tidur ke kursi ataundari tempat tidur ke brankar. Prosedur-prosedur itu digambarkakan dalam bagian ini sebagai prinsip mekanika tubuh untuk menjada atau memperbaiki kesejajaran tubuh.
Teknik mengangkat. Angka cedera dalam pekerjaan meningkat pada tahun-tahun terakhir, dan lebih dari setengahnya adalah cedera punggung yang langsung akibatnya teknik mengangkat dan membungkuk yang tidak tepat (owen dan Garg, 1991). Kebanyakan cedera punggung yang terjadi adalah ketegangan pada kelompok otot lumbal, termasuk otot disekitar vertebra lumbal (Owen dan Gerg, 1991).
Sebelum mengangkat, perawat harus mengkaji kemampuan mengangkat klien atau objek yang akan di angkat dengan menggunakan kriteria dasar cara mengangkat sebagai berikut ini :
1. Posisi beban. Beban yang akan diangkat sedekatmungkin dengan pengangkat. Posisikan objek pada keadaan seperti diatas ketika perawat menggunakan gaya mengangkat dikarenakan objek berada dalam potongan sama (Stamps,1989).
2. Tinggi objek. Tinggi yang paling baik untuk mengangkat vertikal adalah sedikit diatas jari tengah seseorang dengan lengan tergantung disamping (Owen dan Greg, 1991).
3. Posisi tubuh. Ketika posisi tubuh mengangkat yang berbeda, maka petunjuk umum berikut mampu dipakai sebagian besar keadaan. Tubuh diposisikan dengan batang tubuh tegak sehingga kelompok otot-otot multipel bekerja sama dengan cara yang sinkron.
4. Berat maksimum. Setiap perawat harus mengetahui berat maksimum yang aman untuk diangkat aman bagi perawat dan klien. Objek yang terlalu berat adalah jika beratnya sama dengan atau lebih dari 35% berat badan orang yang mengangkat. Oleh karena itu, perawat yang beratnya 59,1 kg tidak mencoba mengangkat klien imobilisasi yang beratnya 45,5 kg. Meskipun nampaknya perawat mungkin mampu melakukannya, hal ini akan beresiko jatuh atau menyebabkan cedera punggung perawat.
Pengaturan posisi yang dapat dilakukan pada pasien ketika mendapatkan perawatan, dengan tujuan untuk kenyamanan pasien, pemudahan perawatan dan pemberian obat, menghindari terjadinya pressure area akibat tekanan yang menetap pada bagian tubuh tertentu.
1. Posisi Fowler
Posisi setengah duduk atau duduk, bagian kepala tempat tidur lebih tinggi atau dinaikkan. Untuk fowler (45°-90°) dan semifowler(15°-45°). Dilakukan untuk mempertahankan kenyamanan, memfasilitasi fungsi pernapasan, dan untuk pasien pasca bedah.
Cara Pelaksanaan :
a. Jelaskan pada pasien mengenai prosedur yang akan dilakukan
b. Dudukkan pasien
c. Berikan sandaran pada tempat tidur pasien atau atur tempat tidur, untuk
posisi untukf o wl er ( 900) danSemi f owl er ( 30 ± 450 ).
c. Anjurkan pasien untuk tetap berbaring setengah duduk.
2. Posisi Sim
Posisi miring ke kanan atau ke kiri. Dilakukan untuk memberi kenyamanan dan untuk mempermudah tindakan pemeriksaan rectum atau pemberian huknah atau obat-obatan lain melalui anus.
Cara Pelaksanaan :
a. Jelaskan pada pasien mengenai prosedur yang akan dilakukan
b. Pasien dalam keadaan berbaring. Kemudian apabila dimiringkan kekiri dengan posisi badan setengah telungkup, maka lutut kaki kiri diluruskan serta paha kanan ditekuk diarahkan ke dada. Tangan kiri di belakang punggung dan tangan kanan didepan kepala.
c. Bila pasien miring kekanan, posisi bdan setengah telungkup dan kaki kanan lurus, sedangkan lutut dan paha kiri ditekuk dan diarahkan ke dada. Tangan kanan dibelakang punggung dan tangan kiri didepan kepala.
3. Posisi Trendelenburg
Posisi pasien berbaring di tempat tidur dengan bagian kepala lebih rendah daripada bagian kaki. Dilakukan untuk melancarkan peredaran darah ke otak, dan pada pasien shock dan pada pasien yang dipasang skintraksi pada kakinya.
Cara Pelaksanaan :
a. Jelaskan pada pasien mengenai prosedur yang akan dilakukan
b. Pasien dalam keadaan berbaring terlentang. Letakkan bantal di antara kepala
dan ujung tempat tidur pasien, serta berikan bantal dibawah lipatan lutut
c. Pada bagian kaki tempat tidur, berikan balok penopang atau atur tempat tidur
secara khusus dengan meninggikan bagian kaki pasien
JENIS-JENIS IMMOBILITASMOBILITAS
1. Imobilitas fisik
pembatasan untuk bergerak secara fisik dengan tujuan mencegah terjadi gangguan komplikasi pergerakan.Contoh : pada pasien hemiplegi yg tdkmampu mempertahankan tekanan pddaerah paralisis sehingga tdk dpt mengubah posisi tubuhnya untuk mengurangi tekanan
2. Imobilitas intelektual
mengalami keterbatasan daya pikir.Contoh : pasien yang mengalami kerusakan
otak akibat suatu penyakit.
3. Imobilitas emosional
mengalami pembatasan secara emosional karena adanya perubahan secara tiba-tiba dalam menyesuaikan diri Contoh : stres berat karena bedah amputasiketika mengalami kehilangan bagian anggota tubuh
4. Imobilitas sosial
Keadaan individu yang mengalami hambatan dalam melakukan interaksi sosial karena keadaan penyakitnya sehinga dapat mempengaruhi perannya dalam kehidupan sosial.
DAMPAK PERUBAHAN TUBUH AKIBAT
Dampak dari immobilisasi dalam tubuh dapat mempengaruhi sistem tubuh, seperti perubahan pada metabolisme tubuh, ketidakseimbangan cairan dan elektrolit, gangguan dalam kebutuhan nutrisi, gangguan fungsi gastrointestinal, perubahan sistem pernafasan, perubahan krdiovaskular, perubahan sistem muskuloskeletal, perubahan kulit, perubahan eliminasi (buang air besar dan kecil), vertigo (pusing tujuh keliling).
Respon Fisiologis Terhadap Imobilitas
1. Muskuloskeletal
1. Gangguan Muskular : Menurunnya massa otot sebagai dampak immobilisasi dapat menyebabkan turunnya kekuatan otot secara langsung
2. Gangguan Skeletal : Akan mudah terjadi kontraktur sendi dan osteoporosis.
Paling sering muncul pada klien imobil,Kekuatan otot menurun,Penurunan masa otot/atropi . Osteoporosis : akibat menurunnya aktivitas otot gangguan endokrin dan metabolisme .Kontraktur (panggul, tumit dan punggung kaki
2. Cardiovaskular
Perubahan sistem kardiovaskuler akibat immobilisasi antara lain dapat berupa hipotensi ortostatik, meningkatnya kerja jantung, dan terjadinya pembentukan trombus.
Reflek neurovaskular menurun vasokonstriksi darah terkumpul pada vena bagian bawah tubuh aliran darah ke system sirkulasi pusat terhambat perfusi serebral menurun pusing/sakit kepala hebat, pingsan
3. Respiratory
Akibat immobilisasi, kadar heamoglobin menurun, ekspansi paru menurun, dan terjadinya lemah otot yang dapat menyebabkan proses metabolisme terganggu.
Ventilasi paru terganggu pergerakan dada dan ekspansi paru terbatas pernafasan dangkal
Aliran darah ke paru-paru terganggu : pertukaran gas menurun
Lemahnya oksigenasi dan retensi CO2 dalam darah Asidosis respiratory
Sekresi mucus lebih kental dan menempel sepanjang trac.respiratorius
kelemahan otot thorax ketidakmampuan inhalasi maximal, gerakan menurun mekanisme batuk terganggu, mucus jadi statis, media berkembang bakteri : infeksi Trat.respiratory bagian bawah.
4. Metabolik dan nutrisi
a. BMR turun
b. kebutuhan energi tubuh, motilitas gastrointestinal dan sekresi kelenjar digestive menurun.
c. Proses katabolisme lebih besar daripada anabolisme nitrogen balance negatif
d. Anorexia malnutrisi
e. Hipoproteinemia edema
5. Urinary
Kurangnya asupan dan penurunan curah jantung sehingga aliran darah renal dan urine berkurang. pengaruh gaya gravitasi menghambat pengosongan urine di ginjal dan kandung kemih secara komplit urine statis media berkembangnya bakteri infeksi Resiko terjadi “Renal Calculi” karena kenaikan Ca dalam urine. Batu ginjal nyeri hebat, perdarahan dan obstruksi
6. Eliminasi Fecal
a. Motilitas kolon dan perstaltic menurun, sphincter konstriksi konstipasi
b. Kelemahan otot skeletal akan mempengaruhi otot abdominal dan perineal yang digunakan untuk defekasi
7. Integumen
a. Elastisitas kulit menurun
b. Ischemia dan nekrosis jaringan supervisial : luka dekubitus
8. Vertigo
Terjadi Vertigo, karena seseorang terlalu lama berbaring, sehingga aliran darah ke otak berkurang dan menyebabkan pusing tujuh keliling, serta mempengaruhi nervus vestibularis.
DAMPAK IMMOBILITAS BAGI PSIKOLOGIS
Berbagai masalah baik fisik maupun psikologis dapat terjadi akibat keadaan immobilisasi. Masalah psikologis yang dapat terjadi antara lain: pasien mengalami penurunan motivasi belajar, yang mana mereka sering tidak memahami pendidikan kesehatan yang diberikan maupun sulit menerima anjuran- anjuran.
Beberapa pasien mengalami kemunduran dalam memecahkan masalah yang dihadapi dan sering kali mengekspresikan emosi dalam berbagai cara misalnya menarik diri, apatis atau agresif. Pada keadaan lebih lanjut pasien mengalami perubahan konsep diri serta memberikan reaksi emosi yang sering tidak sesuai dengan situasi.
Terjadinya perubahan prilaku tersebut merupakan dampak immobilisasi karena selama preses immobilisasi seseorang akan mengalami perubahan peran, konsep diri, kecemasan, dan lain -lain.
Beberapa pasien mengalami kemunduran dalam memecahkan masalah yang dihadapi dan sering kali mengekspresikan emosi dalam berbagai cara misalnya menarik diri, apatis atau agresif. Pada keadaan lebih lanjut pasien mengalami perubahan konsep diri serta memberikan reaksi emosi yang sering tidak sesuai dengan situasi.
Terjadinya perubahan prilaku tersebut merupakan dampak immobilisasi karena selama preses immobilisasi seseorang akan mengalami perubahan peran, konsep diri, kecemasan, dan lain -lain.
UPAYA PENCEGAHAN AKIBAT IMMOBILITAS
Beberapa upaya dapat dilakukan pengasuh pasien untuk mencegah timbulnya penyakit akibat immobilisasi. Bila memungkinkan berkonsultasilah selalu dengan dokter atau perawat.
Hal-hal yang dapat dilakukan oleh pengasuh, sebagai berikut :
a) Infeksi saluran kemih
Pada keadaan tersebut pasien harus dimotivasi untuk minum cukup banyak cairan.
b) Sembelit
Hal-hal yang dapat dilakukan oleh pengasuh, sebagai berikut :
a) Infeksi saluran kemih
Pada keadaan tersebut pasien harus dimotivasi untuk minum cukup banyak cairan.
b) Sembelit
Mengkonsumsi makanan tinggi serat seperti sayur dan buah, serta minum cukup dapat membantu mencegah atau paling tidak mengurangi kemungkinan timbulnya masalah sembelit akibat immobilisasi.
c.) Infeksi Paru
Perubahan posisi dan tepuk-tepuk dada atau punggung secara teratur dapat membantu memindahkan sputum tersebut sehingga mudah dikeluarkan.
Perubahan posisi dan tepuk-tepuk dada atau punggung secara teratur dapat membantu memindahkan sputum tersebut sehingga mudah dikeluarkan.
d.) Masalah Sirkulasi atau Aliran Darah.
Diperlukan fisioterapi dan mungkin kaos kaki khusus.
Diperlukan fisioterapi dan mungkin kaos kaki khusus.
e.) Luka Tekan
Untuk mencegah terjadinya luka tekan ini pasien yang mengalami immobilisasi harus diubah- ubah posisinya ( miring kanan-kiri ) sekitar setiap dua jam.
Untuk mencegah terjadinya luka tekan ini pasien yang mengalami immobilisasi harus diubah- ubah posisinya ( miring kanan-kiri ) sekitar setiap dua jam.
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Mobilitas dalam kamus kedokteran dapat di artikan sebagai daya gerak. Atau suatu kondisi dimana tubuh dapat melakukan tindak bergerak dengan bebas (Kasier, 1989).
Mobilisasi merupakan kemampuan seseorang untuk bergerak bebas, mudah, teratur, mempunyai tujuan memenuhi kebutuhan hidup sehat, dan penting untuk kemandirian (Barbara Kozier, 1995). Sebaliknya keadaan imobilisasi adalah suatu pembatasan gerak atau keterbatasan fisik dari anggota badan dan tubuh itu sendiri dalam berputar, duduk dan berjalan, hal ini salah satunya disebabkan oleh berada pada posisi tetap dengan gravitasi berkurang seperti saat duduk atau berbaring (Susan J. Garrison, 2004)
DAFTAR PUSTAKA
Potter & Perry.2005.Fundamental Keperawatan,Jakarta.PenerbitBuku Kedokteran EGC.
Retna Ambarwati Eny, S.Si.Ti,dkk.2009.KDPK Kebidanan.Jogjakarta.Numed
Tidak ada komentar:
Posting Komentar