Hidung meliputi bagian eksternal yang menonjol
dari wajah dan bagian internal berupa rongga hidung sebagai alat penyalur
udara. Hidung bagian luar tertutup oleh kulit dan disuport oleh sepasang tulang hidung. Rongga hidung
terdiri atas : vestibulum yang dilapisi oleh sel submukosa
sebagai proteksi. Dalam rongga hidung terdapat rambut yang
berperan sebagai penapis udara. Struktur konka yang berfungsi sebagai proteksi terhadap udara luar
karena strukturnya yang berlapis. Sel silia yang berperan untuk melemparkan benda asing ke luar dalam usaha
untuk membersihkan jalan napas.
Bagian internal hidung adalah rongga berlorong yang dipisahkan
menjadi rongga hidung kanan dan kiri oleh pembagi vertikal yang sempit, yang disebut septum.
Masing-masing rongga hidung dibagi menjadi 3 saluran oleh penonjolan
turbinasi atau konka dari dinding lateral. Rongga hidung dilapisi dengan membran
mukosa yang sangat banyak mengandung vaskular yang disebut mukosa hidung. Lendir
di sekresi secara terus - menerus oleh sel-sel goblet yang melapisi permukaan
mukosa hidung dan bergerak ke belakang ke nasofaring oleh gerakan silia.Rongga hidung
dimulai dari Vestibulum, yakni pada bagian anterior ke bagian posterioryang berbatasan
dengan nasofaring. Rongga hidung terbagi atas 2
bagian, yakni secara longitudinal oleh septum hidung dan secara transversal oleh
konka superior, medialis, dan inferior.
2.Faring
Faring
merupakan organ yang menghubungkan rongga mulut dengan
kerongkongan-kerongkongan(esofagus). Didalam lengkung faring terdapat tonsil
(amandel) yaitu kumpulan kelenjar dan ,merupakan pertahanan terhadap infeksi. Faring terdiri dari 3 bagian yaitu :
a.Nasopharinx terdapat saluran penghubung antara nasopharinx dengantelinga bagian tengah yaitu TubaEustachius dan Tuba Auditory
yang didalamnya ada Phariyngeal
tonsil (adenoids), terletak pada bagian posterior nasopharinx, merupakanbagian dari jaringan
Lymphatic pada permukaan posterior lidah.
b.Oropharynx
merupakan bagian
tengah faring antara palatum lunak dan tulang hyoid. Refleks menelan berawal
dari orofaring menimbulkan dua perubahan, makanan
terdorong masuk ke saluran
pencernaan (oesephagus) dan secara simultan
katup menutup laring untuk mencegah makanan masuk ke dalam saluran pernapasan.
c.Laringopharynx
merupakan posisi
terendah dari faring. Pada bagian bawahnya, sistem respirasi menjaditerpisah dari sistem
digestil. Makanan masuk ke bagian belakang, oesephagus dan udara masuk ke arah
depan masuk ke laring.
3.Laring
Laring tersusun atas 9 Cartilago ( 6 Cartilago
kecil dan 3 Cartilago besar). Terbesar adalah Cartilago thyroid yang berbentuk
seperti kapal, bagian depannya mengalami penonjolan membentuk “adam’s apple”, dan di
dalam cartilago ini ada pita suara. Sedikit di bawah cartilago thyroid terdapat cartilago
cricoid. Laring menghubungkan Laringopharynx dengan trachea, terletak pada garis tengah
anterior dari leher pada vertebrata cervical 4 sampai 6.
Laring biasa disebut kotak suara,. Jalur udara harus dijaga terbuka setiap
waktu. Laring tersusun atas 9 lempeng kartilago yang dihubungkan oleh ligamen.
Kartilago suatu jaringan lentur yang mencegah kolaps laring. Kartilago terbesar
pada laring adalah kartilago tiroideus, yang dapat diraba pada permukaan luar
leher. Epiglotis adalah kartilago yang paling atas.Pada saat menelan laring
terangkat dan epiglotis menutup di bagian puncak untuk mencegah makanan masuk
ke dalam laring. Laring terdiri
dari 3 bagian yaitu:
a.Epiglotis : daun katup kartilago yang menutupi
ostium ke arah laring selama menelan
b.Glotis : ostium antara pita suara dalam
laring.
c.Kartilago Thyroid : kartilago terbesar pada
trakea
4.Trakea
Trakea
(batang tenggorokan) memiliki panjang kurang lebih 10 sampai13cm dan
menghubungkan laring sampai bronkus primarius. Dinding trakea terdiri dari 16
sampai 20 lempengkartilago dengan bentuk menyerupai huruf C, yang menjaga
trakea terbuka. Celah pada cincin kartilago yang tidak bisa menutup secara
penuhini berada di sisi posterior, sehingga memungkinkan ekspansi esofagus
ketika makanan ditelan. Mukosa dari trakea adalah epitel bersilia dengan sel
goblet. Sel goblet menghasilkan mukus dan silia berfungsi menyapu partikel yang
berhasil lolos dari saringan di hidung, ke arah faring untuk kemudian di telan
atau diludahkan atau dibatukkan. Potongan melintang trakea khas berbentuk huruf
D Bronkus primarius kanan dan kiri adalah cabang trakea yang memasuki paru. Di
dalam paru, masing-masing bronkus primarius bercabang menjadi bronkus
sekundarius yang mengarah pada lobus masing-masing paru (dua di kiri, tiga di
kanan). Percabangan lebih lanjut pada pipa bronkus biasanya disebut pohon
bronkus.
5.Bronkhus
Bronkus atau cabang tenggorok
merupakan lanjutan dari trakea, ada dua buah yang terdapat pada ketinggian
vertebra torakalis IV dan V, mempunyai struktur serupa dengan trakea dan
dilapisi oleh jenis set yang sama. Bronkus itu berjalan ke bawah dank ke
samping kea rah tampuk paru-paru.
Bronkus kanan lebih pendek dan
lebih besar dari pada bronkus kiri,terdiri dari 6-8 cicin mempunyai 3 cabang.
Bronkus kiri lebih panjang dan lebih ramping dari bronkus kanan, terdiri dari
9-12 cicin mempunyai 2 cabang. Bronkus bercabang-cabang yang lebih kecil
disebut bronkiolus. Pada bronkiolus tidak terdapat cicin, dan pada ujung
bronkiolus terdapat gelembung paru atau gelembung hawa atau alveoli.
6.Paru-paru
Paru-paru
merupakan sebuah alat tubuh yang sebagian besar terdiri dari gelembung
(gelembung hawa, alveoli). Gelembung alveoli ini terdiri dari sel-sel epitel
dan endotel. Jika di bentangkan luas permukaannya lebih kurang 90 m2. Pada
lapisan ini terjadi pertukaran udara, O2 masuk ke dalam darah danCO2 di keluarkan dari darah. Banyaknya
gelembung paru-paru ini kurang lebih 700.000.000 buah (paru-paru kiri dan
kanan).
Paru-paru di bagi menjadi 2 :
a.Paru-paru
kanan , terdiri dari 3 lobus (belah paru), lobus pulmo dekstra superior, lobus
media, dan lobus inferio. Tiap lobus tersusum oleh lobulus.
b.Paru-paru
kiri, terdiri dari pulmo sinistra lobus superior dan lobus inferio. Tiap- tiap
lobus terdiri dari belahan yang lebih kecil yang bernam segment. Paru-paru kiri
mempunyai 10 segment. Yaitu 5 buah segment pada lobus superior dan 5 buah
segment pada lobus interior. Paru paru kanan mempunyai 10 segment yaitu 5 buah
segment pada lobus superior, 2 buahsegment pada lobus medialis dan 3 buah
segment pada lobus inferior. Tiap-tipa segment ini masih terbagi lagi menjadi
belahan-belahan yang bernama lobulus
7.Pleura
Pleura
secara anatomis merupakan satu lapis sel mesotelial, ditunjang oleh jaringan
ikat, pembuluh darah kapiler dan pembuluh getah bening. Rongga pleura dibatasi
oleh 2 lapisan tipis sel mesotelial, terdiri atas pleura parietalis dan pleura
viseralis. Pleura parietalis melapisi otot-otot dinding dada, tulang dan
kartilago, diafragma dan mediastinum, sangat sensitif terhadap nyeri. Pleura
viseralis melapisi paru dan menyusup ke dalam semua fisura dan tidak sensitif
terhadap nyeri. Rongga pleura individu sehat terisi cairan (10-20 ml). Pleura
di bagi menjadi 2, yaitu :
a)Pleura
visceral (selaput dada pembungkus) yaitu slaput paru yang langsung membungkus
paru-paru
b)Pleura
pariental yaitu selaput yang melapisi rongga dada sebelah dada.
8.Pembuluh
Darah Paru
Sirkulasi
pulmonar berasal dari ventrikel kanan yang tebal dindingnya 1/3 dari tebal
ventrikel kiri. Perbedaan ini menyebabkan kekuatan kontraksi dan tekanan yang
di timbulkan jauh lebih kecil di bandingkan dengan tekanan yang di timbulkan
jauh lebih kecil dibandingkan dengan
tekanan yang di timbulkan oleh kontraksi vertikel kiri.
9.Alveoli
Alveolus
adalah kantong udara terminal yang berhubungan erat dengan jejaring kaya
pembuluh darah. Ukurannya bervariasi, tergantung lokasi anatomisnya, semakin
negatif tekanan intrapleura di apeks, ukuran alveolus akan semakin besar. Ada
dua tipe sel epitel alveolus. Tipe I berukuran besar, datar dan berbentuk
skuamosa, bertanggungjawab untuk pertukaran udara. Sedangkan tipe II, yaitu
pneumosit granular, tidak ikut serta dalam pertukaran udara. Sel-sel tipe II
inilah yang memproduksi surfaktan, yang melapisi alveolus dan memcegah kolapnya
alveolus. Sirkulasi pulmonal memiliki aliran yang tinggi dengan tekanan yang
rendah (kira-kira 50 mmHg). Paru-paru dapat menampung sampai 20% volume darah
total tubuh, walaupun hanya 10% dari volume tersebut yang tertampung dalam kapiler.
Sebagai respon terhadap aktivitas, terjadi peningkatan sirkulasi pulmonal.
Mobilitas dalam kamus kedokteran dapat di artikan sebagai daya gerak. Atau suatu kondisi dimana tubuh dapat melakukan tindak bergerak dengan bebas (Kasier, 1989).
Mobilisasi merupakan kemampuan seseorang untuk bergerak bebas, mudah, teratur, mempunyai tujuan memenuhi kebutuhan hidup sehat, dan penting untuk kemandirian (Barbara Kozier, 1995). Sebaliknya keadaan imobilisasi adalah suatu pembatasan gerak atau keterbatasan fisik dari anggota badan dan tubuh itu sendiri dalam berputar, duduk dan berjalan, hal ini salah satunya disebabkan oleh berada pada posisi tetap dengan gravitasi berkurang seperti saat duduk atau berbaring (Susan J. Garrison, 2004).
Merupakan keadaan dimana Immobilisasi / tirah baring adalah keadaan dimana seseorang tidak dapat bergerak secara aktif / bebas karena kondisi yang mengganggu pergerakan (aktivitas ). Imobilisasi secara fisik, merupakan pembatasan untuk bergerak secara fisik dengan tujuan mencegah terjadinya gangguan komplikasi pergerakan.
BAB II
ISI
A.MOBILITAS
Mobilitas dalam kamus kedokteran dapat di artikan sebagai daya gerak. Atau suatu kondisi dimana tubuh dapat melakukan tindak bergerak dengan bebas (Kasier, 1989). Sedangkan imobilitas keadaan individu mengalami ketidakmampuan / keterbatasan gerak fisik secara aktif akibat berbagai penyakit / impairment. Atau dapat di artika sebagai suatu keadaan tidak bergerak / tirah baring yang terus-menerus selama 5 hari / lebih akibat perubahan sindrom degenerasi fisiologis akibat menurunya aktivitas dan ketidakberdayaan.
Mobilisasi merupakan kemampuan seseorang untuk bergerak bebas, mudah, teratur, mempunyai tujuan memenuhi kebutuhan hidup sehat, dan penting untuk kemandirian (Barbara Kozier, 1995). Sebaliknya keadaan imobilisasi adalah suatu pembatasan gerak atau keterbatasan fisik dari anggota badan dan tubuh itu sendiri dalam berputar, duduk dan berjalan, hal ini salah satunya disebabkan oleh berada pada posisi tetap dengan gravitasi berkurang seperti saat duduk atau berbaring (Susan J. Garrison, 2004).
Mobilisasi secara garis besar dibagi menjadi 2, yaitu mobilisasi secara pasif dan mobilisasi secara aktif.
1.Mobilisasim secara pasif
Yaitu mobilisasi dimana pasien dalam menggerakkan tubuhnya dengan cara dibantu dengan orang lain secara total atau keseluruhan.
2.Mobilisasi aktif
Yaitu dimana pasien dalam menggerakkan tubuh dilakukan secara mandiri tanpa bantuan dari orang lain (Priharjo, 1997).
JENIS MOBILISASI
a.Mobilitas penuh, merupakan kemampuan seseorang untuk bergerak secara penuh dan bebas sehingga dapat melakukan interaksi social dan menjalankan peran sehari-hari
b.Mobilisasi sebagian, merupakan kemampuan seseorang untuk bergerak secara bebas karena dipengaruhi oleh gangguan syaraf motorik dan sensorik pada area tubuhnya.
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI MOBILISASI
1.Gaya hidup
Gaya hidup seseorang sangat tergantung dari tingkat pendidikannya. Pengetahuan kesehatan tentang mobilitas akan menyebabkan seseorang melakukan mobilisasi dengan cara yang sehat. Contoh: gaya berjalan seorang ABRI akan berbeda dengan gaya berjalan seorang perawat.
2.Prosess penyakit dan Injuri
Adanya penyakit tertentu yang diderita seseorang akan mempengaruhi mobilitasnya. Contoh : sesereorang yang patah tulang akan kesulitan untuk mobilisasi dengan bebas.
3.Kebudayaan
Kebudayaan dapat mempengaruhi pola dan sikap dalam melakukan aktivitas.
Contoh : seorang anak desa yang biasa berjalan kaki setiap hari akan berbeda mobilitasnya dengan anak kota yang biasa memakai motor dalam segala keperluannya.
4.Tingkat Energi
Untuk bermobilisasi diperlukan tenaga atau energi.
Contoh : seseorang yang sedang sakit berbeda mobilitasnya dengan orang yang sehat.
5.Usia dan Status Perkembangan
Seorang anak akan berbeda tingkat kemampuan mobilitasnya dibandingkan dengan seorang remaja. Anak yang selalu sakit dalam masa pertumbuhannya akan berbeda dengan kelincahannya dibandingkan dengan anak yang jarang sakit.
RENTANG GERAK
Rentang gerak merupakan jumlah maksimum gerakan yang mungkin dilakukan sendi dari alah satu tiga potongan tubuh : sagital, frontal, dan transversal.
Potongan sagital adalah garis yang melewati tubuh dari depan kebelakang, membagi tubuh menjadi bagian kiri dan kanan. Potongan frontal melewati tubuh dari sisi ke sisi dan membagi tubuh menjadi bagian dari depan dan belakang. Potongan transversal adalah garis horisontal yang membagi tubuh membagi tubuh menjadi bagian atas dan bawah.
Mobilisasi sendi disetiap potongan di batasi oleh ligamen, otot, dan konstruksi sendi. Beberapa gerakan sendi adalah spesifik untuk setiap potongan. Pada potongan sagital, gerakannya adalah fleksi dan ekstensi (jari-jari dan siku) dan hiperekstensi (pinggul). Pada potongan frontal, gerakannya adalah abduksi dan adduksi (lengan dan tungkai) dan eversi dan inversi (kaki). Pada potongan transversal pronasi dan supinasi (tangan), rotasi internal dan eksternal, dan dosifleksi dan plantarfleksi (kaki).
GAYA BERJALAN
Istilah gaya berjalan digunakan untuk menggambarkan cara utama atau gaya ketika berjalan (Fish & Nielsen, 1993). Siklus gaya berjalan dimulai dengan tumit mengangkat satu tungkai dan berlanjut dengan tumit mengangkat tungkai yang sama. Interval ini sama dengan 100% siklus gaya berjalan dan berlangsung 1 detik untuk kenyamanan berjalan (lehmann et al, 1992).
Dengan mengkaji gaya berjalan klien kemungkinan perawat membuat kesimpulan tentang keseimbangan, postur, keamanan, dan kemampuan berjalan tanpa bantuan. Mekanika gaya berjalan manusia mengikuti kesesuain sistem skeletal, saraf, dan otot dari tubuh manusia (Fish & Nielsen, 1993).
EFEK FISIOLOGI DARI PERUBAHAN MOBILITAS
Apabila ada perubahan mobilisasi, setiap system tubuh beresiko terjadi gangguan. Tingkat keparahan tergantung pada umur klien dan kondisi kesehatan secara keseluruhan, serta tingkat imobilisasi yang di alami.
a)Perubahan Metabolik.
a.Sistem endokrin merupakan produksi hormon sekresi kelenjar, mempertahankan dan mengatur fungsi vital seperti
1. respon terhadap stress dan cedera
2. pertumbuhan dan perkembangan
3. reproduksi
4. metabolisme energi
b.Perubahan sistem respirator.
Klien pasca operasi berisiko tinggi mengalami koplikasi paru-paru. Komplikasi paru-paru yang paling umum adalah atelektasis dan pneumonia hipostatik. Pada atelektasis bronkiolus menjadi tertutup oleh adanya sekresi.
c.Perubahan Sistem Kardiovaskuler.
Sietem kardiovaskuler juga dipengaruhi oleh imobilisasi. Ada tiga perubahan utama yaitu hipotensi ortostatik, peningkatan kerja jantung dan pembentukan trombus.
d.Perubahan Sistem muskuloskeletal.
Pada sistem muskuloskeletal meliputi gangguan mobilisasi permanen. Keterbatasan mobilisasi mempengruhi otot klien melalui kehilangan daya tahan penurunan masa otot, atrofi, dan penurunan stabilitas. Pengaruh lain dari keterbatasan mobilisasi yang mempengaruhi sistem skeletal adalah gangguan metabolisme kalsium danj gangguan metabolisme sendi.
e.Perubahan Eliminasi Urine.
Eliminasi urine klien berubah oleh karena adanya imobilisasi pada posisi tegak lurus, urine mengalir keluar dari pelvis ginjal lalu masuk kedalam ureter dan kandung kemih akibat gaya gravitasi. Jika klien dalam recumbent atau datar, ginjal dan ureter membentuk garis datar seperti pesawat. Ginjal yang membentuk urine harus masuk kedalam kandung kemih melawan gaya gravitasi.
EFEK PSIKOLOGIS PERUBAHAN MOBILISASI
Mobilisasi menyebabkan respons emosional, intelektual, sensorik, dan sosiokultural. Perubahan status emosional biasa terjadi bertahap. Bagaimana pun juga lansia lebih rentan terhadap perubahan-perubahan tersebut, sehingga perawat harus mengopserfasi lebih dini. Perubahan emosional paling umum adalah deperesi, perubahan perilaku, perubahan siklus tidur bangun dan gangguan koping.
ACTIVITY DAILY LIVING
Activities of Daily Living (ADL) adalah aktivitas yang penting bagi perawatan diri sendiri. Aktivitas sehari-hari merupakan aktivitas rutin yang dilakukan dalam kehidupan sehari-hari .Ketrampilan dalam kehidupan sehr-hari merupakn kebiasaan yg tdk pernh lepas dr setiaporang.kegiatan ini dlakukn dr pgi hr smpe mlm hr.merupakan kegiatan yg bysa dlakukan stiap hr,mlipt mrwt dri,kgiatn dpr dll. Kegiatan Harian Hidup (ADLs) adalah istilah yang digunakan dalam perawatan kesehatan untuk menyebut kegiatan perawatan diri sehari-hari dalam tempat individu tinggal, di lingkungan luar ruangan, atau keduanya. Profesional kesehatan rutin mengacu pada kemampuan atau ketidakmampuan untuk melakukan ADLs sebagai ukuran status fungsional seseorang, khususnya dalam hal penyandang cacat dan orang tua.
ADLs didefinisikan sebagai "hal-hal yang biasanya kita lakukan, seperti makan sendiri, mandi, berpakaian, grooming, pekerjaan, pekerjaan rumah tangga, dan rekreasi." Sejumlah survei nasional mengumpulkan data tentang status ADL penduduk AS. Sementara kategori dasar ADLs miliki. telah diusulkan, apa yang secara khusus merupakan ADL tertentu dalam suatu lingkungan tertentu untuk orang
tertentu mungkin berbeda.
Aktivitas harian biasanya kita lakukan dalam kehidupan sehari-hari termasuk kegiatan sehari-hari kita melakukan perawatan diri (seperti makan sendiri, mandi, berpakaian, dandan), pekerjaan, pekerjaan rumah tangga, dan rekreasi. Kemampuan atau ketidakmampuan untuk melakukan ADLs dapat digunakan sebagai ukuran yang sangat praktis kemampuan / ketidakmampuan dalam banyak gangguan.
Kegiatan rutin bahwa orang cenderung lakukan setiap hari tanpa memerlukan bantuan. Ada enam ADLs dasar: makan, mandi, berpakaian, toileting, mentransfer (berjalan) dan penahanan. Kemampuan individu untuk melakukan ADLs adalah penting untuk menentukan jenis perawatan jangka panjang (misalnya perawatan-perawatan di rumah atau perawatan rumah) dan cakupan kebutuhan individu (yaitu Medicare, Medicaid atau asuransi perawatan jangka panjang).
Sebuah aktivitas hidup sehari-hari (ADL) evaluasi merupakan penilaian individu fisik dan kadang-kadang mental keterampilan. Di bidang terapi fisik atau okupasi, itu mencerminkan seberapa baik pasien cacat atau seseorang sembuh dari penyakit atau kecelakaan dapat berfungsi dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini juga digunakan untuk menentukan seberapa baik berhubungan dengan pasien dan berpartisipasi dalam lingkungan mereka.
B.IMMOBILITAS
Merupakan keadaan dimana Immobilisasi / tirah baring adalah keadaan dimana seseorang tidak dapat bergerak secara aktif / bebas karena kondisi yang mengganggu pergerakan (aktivitas ). Imobilisasi secara fisik, merupakan pembatasan untuk bergerak secara fisik dengan tujuan mencegah terjadinya gangguan komplikasi pergerakan. na seseorang tdk dpt bergerak secara bebas karenakondisi yg mengganggu pergerakan/aktifitas.Contoh : mengalami trauma tulang belakang, fraktur pada ekstremitas.
PENGATURAN POSISI TUBUH SESUAI KEBUTUHAN PASIEN
Dalam mempertahankan kesejajaran tubuh yang tepat, perwat mengangkat klien dengan benar, menggunakan teknik posisi yang tepat, dan memindahkan klien dengan aman dari tempat tidur ke kursi ataundari tempat tidur ke brankar. Prosedur-prosedur itu digambarkakan dalam bagian ini sebagai prinsip mekanika tubuh untuk menjada atau memperbaiki kesejajaran tubuh.
Teknik mengangkat. Angka cedera dalam pekerjaan meningkat pada tahun-tahun terakhir, dan lebih dari setengahnya adalah cedera punggung yang langsung akibatnya teknik mengangkat dan membungkuk yang tidak tepat (owen dan Garg, 1991). Kebanyakan cedera punggung yang terjadi adalah ketegangan pada kelompok otot lumbal, termasuk otot disekitar vertebra lumbal (Owen dan Gerg, 1991).
Sebelum mengangkat, perawat harus mengkaji kemampuan mengangkat klien atau objek yang akan di angkat dengan menggunakan kriteria dasar cara mengangkat sebagai berikut ini :
1.Posisi beban. Beban yang akan diangkat sedekatmungkin dengan pengangkat. Posisikan objek pada keadaan seperti diatas ketika perawat menggunakan gaya mengangkat dikarenakan objek berada dalam potongan sama (Stamps,1989).
2.Tinggi objek. Tinggi yang paling baik untuk mengangkat vertikal adalah sedikit diatas jari tengah seseorang dengan lengan tergantung disamping (Owen dan Greg, 1991).
3.Posisi tubuh. Ketika posisi tubuh mengangkat yang berbeda, maka petunjuk umum berikut mampu dipakai sebagian besar keadaan. Tubuh diposisikan dengan batang tubuh tegak sehingga kelompok otot-otot multipel bekerja sama dengan cara yang sinkron.
4.Berat maksimum. Setiap perawat harus mengetahui berat maksimum yang aman untuk diangkat aman bagi perawat dan klien. Objek yang terlalu berat adalah jika beratnya sama dengan atau lebih dari 35% berat badan orang yang mengangkat. Oleh karena itu, perawat yang beratnya 59,1 kg tidak mencoba mengangkat klien imobilisasi yang beratnya 45,5 kg. Meskipun nampaknya perawat mungkin mampu melakukannya, hal ini akan beresiko jatuh atau menyebabkan cedera punggung perawat.
Pengaturan posisi yang dapat dilakukan pada pasien ketika mendapatkanperawatan, dengan tujuan untuk kenyamanan pasien, pemudahan perawatan danpemberian obat, menghindari terjadinya pressure area akibat tekanan yangmenetap pada bagian tubuh tertentu.
1.Posisi Fowler
Posisi setengah duduk atau duduk, bagian kepala tempat tidur lebih tinggi atau dinaikkan. Untuk fowler (45°-90°) dan semifowler(15°-45°). Dilakukan untuk mempertahankan kenyamanan, memfasilitasi fungsi pernapasan, dan untuk pasien pasca bedah.
Cara Pelaksanaan :
a. Jelaskan pada pasien mengenai prosedur yang akan dilakukan
b. Dudukkan pasien
c. Berikan sandaran pada tempat tidur pasien atau atur tempat tidur, untuk
posisi untukf o wl er ( 900) danSemi f owl er ( 30 ± 450 ).
c.Anjurkan pasien untuk tetap berbaring setengah duduk.
2.Posisi Sim
Posisi miring ke kanan atau ke kiri. Dilakukan untuk memberi kenyamanan dan untuk mempermudah tindakan pemeriksaan rectum atau pemberian huknah atau obat-obatan lain melalui anus.
Cara Pelaksanaan :
a.Jelaskan pada pasien mengenai prosedur yang akan dilakukan
b. Pasien dalam keadaan berbaring. Kemudian apabila dimiringkan kekiri dengan posisi badan setengah telungkup, maka lutut kaki kiri diluruskan serta paha kanan ditekuk diarahkan ke dada. Tangan kiri di belakang punggung dan tangan kanan didepan kepala.
c.Bila pasien miring kekanan, posisi bdan setengah telungkup dan kaki kanan lurus, sedangkan lutut dan paha kiri ditekuk dan diarahkan ke dada. Tangan kanan dibelakang punggung dan tangan kiri didepan kepala.
3.Posisi Trendelenburg
Posisi pasien berbaring di tempat tidur dengan bagian kepala lebih rendah daripada bagian kaki. Dilakukan untuk melancarkan peredaran darah ke otak, dan pada pasien shock dan pada pasien yang dipasang skintraksi pada kakinya.
Cara Pelaksanaan :
a.Jelaskan pada pasien mengenai prosedur yang akan dilakukan
b.Pasien dalam keadaan berbaring terlentang. Letakkan bantal di antara kepala
dan ujung tempat tidur pasien, serta berikan bantal dibawah lipatan lutut
c.Pada bagian kaki tempat tidur, berikan balok penopang atau atur tempat tidur
secara khusus dengan meninggikan bagian kaki pasien
JENIS-JENIS IMMOBILITASMOBILITAS
1.Imobilitas fisik
pembatasan untuk bergerak secara fisik dengan tujuan mencegah terjadi gangguan komplikasi pergerakan.Contoh : pada pasien hemiplegi yg tdkmampu mempertahankan tekanan pddaerah paralisis sehingga tdk dpt mengubah posisi tubuhnya untuk mengurangi tekanan
2.Imobilitas intelektual
mengalami keterbatasan daya pikir.Contoh : pasien yang mengalami kerusakan
otak akibat suatu penyakit.
3.Imobilitas emosional
mengalami pembatasan secara emosional karena adanya perubahan secara tiba-tiba dalam menyesuaikan diri Contoh : stres berat karena bedah amputasiketika mengalami kehilangan bagian anggota tubuh
4.Imobilitas sosial
Keadaan individu yang mengalami hambatan dalam melakukan interaksi sosial karena keadaan penyakitnya sehinga dapat mempengaruhi perannya dalam kehidupan sosial.
DAMPAK PERUBAHAN TUBUH AKIBAT
Dampak dari immobilisasi dalam tubuh dapat mempengaruhi sistem tubuh, seperti perubahan pada metabolisme tubuh, ketidakseimbangan cairan dan elektrolit, gangguan dalam kebutuhan nutrisi, gangguan fungsi gastrointestinal, perubahan sistem pernafasan, perubahan krdiovaskular, perubahan sistem muskuloskeletal, perubahan kulit, perubahan eliminasi (buang air besar dan kecil), vertigo (pusing tujuh keliling).
Respon Fisiologis Terhadap Imobilitas
1.Muskuloskeletal
1. Gangguan Muskular : Menurunnya massa otot sebagai dampak immobilisasi dapat menyebabkan turunnya kekuatan otot secara langsung
2. Gangguan Skeletal : Akan mudah terjadi kontraktur sendi dan osteoporosis.
Paling sering muncul pada klien imobil,Kekuatan otot menurun,Penurunan masa otot/atropi . Osteoporosis : akibat menurunnya aktivitas otot gangguan endokrin dan metabolisme .Kontraktur (panggul, tumit dan punggung kaki
2.Cardiovaskular
Perubahan sistem kardiovaskuler akibat immobilisasi antara lain dapat berupa hipotensi ortostatik, meningkatnya kerja jantung, dan terjadinya pembentukan trombus.
Reflek neurovaskular menurun vasokonstriksi darah terkumpul pada vena bagian bawah tubuh aliran darah ke system sirkulasi pusat terhambat perfusi serebral menurun pusing/sakit kepala hebat, pingsan
3.Respiratory
Akibat immobilisasi, kadar heamoglobin menurun, ekspansi paru menurun, dan terjadinya lemah otot yang dapat menyebabkan proses metabolisme terganggu.
Aliran darah ke paru-paru terganggu : pertukaran gas menurun
Lemahnya oksigenasi dan retensi CO2 dalam darah Asidosis respiratory
Sekresi mucus lebih kental dan menempel sepanjang trac.respiratorius
kelemahan otot thorax ketidakmampuan inhalasi maximal, gerakan menurun mekanisme batuk terganggu, mucus jadi statis, media berkembang bakteri : infeksi Trat.respiratory bagian bawah.
4.Metabolik dan nutrisi
a.BMR turun
b.kebutuhan energi tubuh, motilitas gastrointestinal dan sekresi kelenjar digestive menurun.
c.Proses katabolisme lebih besar daripada anabolisme nitrogen balance negatif
d.Anorexia malnutrisi
e.Hipoproteinemia edema
5.Urinary
Kurangnya asupan dan penurunan curah jantung sehingga aliran darah renal dan urine berkurang. pengaruh gaya gravitasi menghambat pengosongan urine di ginjal dan kandung kemih secara komplit urine statis media berkembangnya bakteri infeksi Resiko terjadi “Renal Calculi” karena kenaikan Ca dalam urine. Batu ginjal nyeri hebat, perdarahan dan obstruksi
6. Eliminasi Fecal
a. Motilitas kolon dan perstaltic menurun, sphincter konstriksi konstipasi
b. Kelemahan otot skeletal akan mempengaruhi otot abdominal dan perineal yang digunakan untuk defekasi
7. Integumen
a. Elastisitas kulit menurun
b. Ischemia dan nekrosis jaringan supervisial : luka dekubitus
8. Vertigo
Terjadi Vertigo, karena seseorang terlalu lama berbaring, sehingga aliran darah ke otak berkurang dan menyebabkan pusing tujuh keliling, serta mempengaruhi nervus vestibularis.
DAMPAK IMMOBILITAS BAGI PSIKOLOGIS
Berbagai masalah baik fisik maupun psikologis dapat terjadi akibat keadaan immobilisasi. Masalah psikologis yang dapat terjadi antara lain: pasien mengalami penurunan motivasi belajar, yang mana mereka sering tidak memahami pendidikan kesehatan yang diberikan maupun sulit menerima anjuran- anjuran.
Beberapa pasien mengalami kemunduran dalam memecahkan masalah yang dihadapi dan sering kali mengekspresikan emosi dalam berbagai cara misalnya menarik diri, apatis atau agresif. Pada keadaan lebih lanjut pasien mengalami perubahan konsep diri serta memberikan reaksi emosi yang sering tidak sesuai dengan situasi.
Terjadinya perubahan prilaku tersebut merupakan dampak immobilisasi karena selama preses immobilisasi seseorang akan mengalami perubahan peran, konsep diri, kecemasan, dan lain -lain.
UPAYA PENCEGAHAN AKIBAT IMMOBILITAS
Beberapa upaya dapat dilakukan pengasuh pasien untuk mencegah timbulnya penyakit akibat immobilisasi. Bila memungkinkan berkonsultasilah selalu dengan dokter atau perawat.
Hal-hal yang dapat dilakukan oleh pengasuh, sebagai berikut :
a) Infeksi saluran kemih
Pada keadaan tersebut pasien harus dimotivasi untuk minum cukup banyak cairan.
b) Sembelit
Mengkonsumsi makanan tinggi serat seperti sayur dan buah, serta minum cukup dapat membantu mencegah atau paling tidak mengurangi kemungkinan timbulnya masalah sembelit akibat immobilisasi.
c.) Infeksi Paru
Perubahan posisi dan tepuk-tepuk dada atau punggung secara teratur dapat membantu memindahkan sputum tersebut sehingga mudah dikeluarkan.
d.) Masalah Sirkulasi atau Aliran Darah.
Diperlukan fisioterapi dan mungkin kaos kaki khusus.
e.) Luka Tekan
Untuk mencegah terjadinya luka tekan ini pasien yang mengalami immobilisasi harus diubah- ubah posisinya ( miring kanan-kiri ) sekitar setiap dua jam.
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Mobilitas dalam kamus kedokteran dapat di artikan sebagai daya gerak. Atau suatu kondisi dimana tubuh dapat melakukan tindak bergerak dengan bebas (Kasier, 1989).
Mobilisasi merupakan kemampuan seseorang untuk bergerak bebas, mudah, teratur, mempunyai tujuan memenuhi kebutuhan hidup sehat, dan penting untuk kemandirian (Barbara Kozier, 1995). Sebaliknya keadaan imobilisasi adalah suatu pembatasan gerak atau keterbatasan fisik dari anggota badan dan tubuh itu sendiri dalam berputar, duduk dan berjalan, hal ini salah satunya disebabkan oleh berada pada posisi tetap dengan gravitasi berkurang seperti saat duduk atau berbaring (Susan J. Garrison, 2004)
DAFTAR PUSTAKA
Potter & Perry.2005.Fundamental Keperawatan,Jakarta.PenerbitBuku Kedokteran EGC.